|
Monday, 4 May 2009
“Untung, Kami Tidak Pegang Balak Enam”
Pada 15 April 2009 lalu, Eko Edhi Caroko dari Majalah Trust berkesempatan melakukan wawancara dengan Direktur Utama Humpuss Tito Soetalaksana di kantornya, Gedung Granadi lantai 9, Jakarta.
By: Majalah Trust
Tahun ini, tepatnya pada 23 April 2009, PT Humpuss berusia 25 tahun. Menurut Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), pemilik sekaligus komisaris utama kelompok usaha ini, selama tahun lalu ada sejumlah unit usaha di bawah bendera Humpuss terpaksa mengalami kerugian. Nilainya pun terbilang lumayan, mencapai miliaran rupiah.
Pagebluk tersebut bisa terjadi, tak perlu dimungkiri, karena imbas dari resesi dunia. Maklum saja, kebanyakan anak perusahaan Humpuss yang harus merugi itu bergerak di sektor industri dan jasa yang selama ini berorientasi ekspor.
Agar imbasnya tak makin berkepanjangan dan meluas, serta-merta para penentu di Humpuss menggencarkan berbagai langkah konsolidasi. Salah satunya, layaknya yang dilakukan Tommy pada pertengahan Februari lalu, tak tanggung-tanggung, ia merombak total jajaran direksinya. Untuk posisi chief executive officer (direktur utama), Tommy memercayakannya kepada Tito Soetalaksana yang pernah menjabat Direktur Utama Bank BTN.
“Salah satu tugas utama saya adalah menjaga eksistensi perusahaan ini,” kata Tito. Seperti yang diamanatkan para pemegang saham Humpuss, di antaranya, ia akan menjalankan kebijakan efisiensi dan meningkatkan penjualan. Dengan strategi ini, kata Tito, pihaknya berharap pada tahun ini juga Humpuss sudah bisa mencetak untung kembali.
Bila Tito tampak begitu optimistis, bukannya tiada dasar. Peluangnya yang sudah jelas, katanya, melihat potensi yang dimiliki kelompok usaha ini. Secara fundamental, Humpuss memang masih cukup kuat. Lagi pula, kerugian yang harus dialami perusahaan ini, lebih karena efek domino krisis global.
“Untungnya lagi, Humpuss tidak memegang kartu balak enam,” ujar Tito, sambil berseloroh.
Nah, bagaimana lebih jauh strategi Tito mengangkat Humpuss dari ancaman keterpurukan, pekan silam, ia berkesempatan menjelaskannya kepada TRUST. Berikut petikannya:
Tugas khusus seperti apa yang diamanatkan para pemegang saham kepada Anda sebagai Dirut Humpuss yang baru?
Secara umum, saya mendapat tugas membawa Humpuss kembali menjadi besar dan lebih baik. Tugas khususnya, mempertahankan apa yang sudah dicapai perusahaan selama ini. Untuk menjalankan tugas ini, saya memiliki prioritas utama, yakni mencoba menjaga eksistensi perusahaan dari dampak buruk yang ditimbulkan krisis ekonomi. Menurut saya, hampir semua perusahaan, kecuali yang bergerak di industri makanan dan minuman, tengah menghadapi kondisi yang sulit. Dampak terbesar dari krisis ini, tentunya dirasakan oleh perusahaan yang berorientasi ekspor.
Bagaimana dampaknya terhadap Humpuss?
Otomatis, terutama pada bisnis yang bergerak di bidang transportasi. Biaya operasionalnya terus meningkat, sementara kenaikan tarifnya tidak proporsional.
Bukannya sebaliknya, karena harga bahan bakar minyak (BBM) yang mulai turun?
Itu (penurunan harga BBM) kan baru terjadi sekarang ini. Sebelumnya, harga minyak begitu tinggi. Untuk recovery-nya membutuhkan waktu. Ilustrasinya, penurunan harga minyak saat ini dampaknya terhadap biaya operasional baru sebesar 5% hingga 10%. Padahal, sebelumnya naik hingga ratusan persen.
Kebijakan seperti apa yang akan diambil dalam kondisi seperti ini?
Yang paling bisa kami kontrol adalah efisiensi. Antara lain dengan mengurangi beban utang, di antaranya diupayakan lewat skim restrukturisasi. Sementara untuk PHK, kami tidak pernah berpikir ke arah sana. Di tempat kami memang ada PHK, tapi peningkatan hasil kerja (bukannya pemutusan hubungan kerja). Banyak pengamat mengatakan, perusahaan yang bisa bertahan di semester pertama tahun ini, kemungkinan besar akan dapat hidup pada ekuilibrium baru yang akan tercipta setelah krisis ini berlalu. Kami akan mencoba ke arah itu.
Sampai saat ini bisnis Humpuss bergerak di bidang apa saja?
Secara garis besar kami bergerak di bidang energi, petrokimia, transportasi, trading, dan lain-lain. Yang tergolong lain-lain itu, antara lain properti. Di bidang energi, kami memiliki PT Humpuss Pengolahan Minyak di Cepu dan Humpuss Patra Gas. Di bidang petrokimia kami telah memulainya sejak 1900-an. Di bisnis ini kami bergerak lewat PT Kaltim Methanol Industri, PT Humpuss Aromatik di Lhokseumawe, dan PT Humpuss Karbometil Selulosa. Di bisnis ini kami masih fokus untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.
Bagaimana dengan bisnis di sektor trading?
Kami memiliki kerja sama dengan Pertamina, yakni sebagai agen penyalur pertamax. Selain itu, kami juga trading batu bara. Di bisnis trading ini kami juga memperdagangkan high speed diesel (HSD), yakni bahan bakar untuk mesin diesel otomotif dan mesin diesel industri berkecepatan tinggi.
Humpuss pernah berencana membangun pabrik etanol, sampai saat ini sudah sejauh mana perkembangannya?
Sampai saat ini masih dalam tahap penelitian. Kami harus mengalkulasi kembali.
Mengapa pembangunannya harus tertunda?
Alasannya, antara lain, memang harus demikian. Ketika harga minyak dunia masih tinggi, jangankan etanol, industri biofuel lainnya seperti minyak jarak, jagung, dan kelapa sawit, juga menggebu-gebu ingin menggenjot produksinya. Tapi, saat ini kondisinya berubah, paling tidak produksi biofuel mulai direm.
Mengapa harus...
Sebab ketika dievaluasi ulang, bukan hanya harganya yang tidak kompetitif lagi dengan bahan bakar yang berasal dari fosil, juga mengubah penggunaan bahan bakar dari konvensional ke BBM alternatif ternyata sulit. Contohnya saja, program pemerintah yang mengonversi penggunaan minyak tanah ke gas masih banyak kendalanya. Apalagi kemudian konsumen diajak untuk menggunakan etanol, yang infrastruktur pendukungnya belum siap. Meski begitu, kami tetap akan menjajaki bisnis ini. Jadi, bisnis ini belum menjadi prioritas kami untuk saat ini.
Secara umum, bagaimana kondisi unit-unit usaha itu?
Cukup aman. Namun, dalam kondisi seperti ini, perusahaan mana yang tidak terpengaruh oleh krisis, kecuali perbankan--yang labanya cenderung terus meningkat.
Bisa digambarkan bagaimana dampak krisis global terhadap perusahaan ini?
Contohnya di industri chemical. Misalnya produk metanol, dulu produk ini banyak digunakan oleh industri plywood. Tapi kini, karena banyak industri plywood yang terganggu akibat order dari para buyer di luar negeri berkurang, otomatis bisnis ini juga ikut terganggu. Produksi kami masih tetap, yakni rata-rata 20 ribu metrik ton per bulan. Namun, dari sisi pendapatan cenderung berkurang. Di awal 2008, harga metanol pernah mencapai Rp 400-an per meter kubik, kemudian trennya menurun hingga pada akhir tahun itu tinggal sekitar Rp 140. Saat ini memang sudah rebound, yakni naik menjadi sekitar Rp 200. Melihat kondisinya, saya perkirakan hingga akhir tahun ini, harga metanol akan mencapai Rp 250 per meter kubik. Artinya, saya tidak yakin bahwa pada tahun ini harga metanol akan kembali mencapai Rp 400-an. Dilihat dari gejolak harganya saja, bisa tergambar bahwa pengaruh krisis di bisnis chemical memang cukup besar.
Bagaimana dengan sektor transportasi?
Terutama untuk kontrak jangka panjang tidak terlalu berpengaruh, karena tarifnya cenderung akan lebih stabil. Namun, untuk penyewaan armada yang sifatnya jangka pendek (spot carter), ada pengaruhnya. Misalnya saja dari tarif sewa kapal. Sebelum krisis, tarifnya bisa mencapai US$ 45 ribu per hari, kini hanya sekitar US$ 750 hingga US$ 1.000 dolar saja. Di sisi lain, arus lalu lintas ekspor berkurang, sehingga order baru untuk sewa kapal yang sifatnya jangka pendek masih sulit dicari. Jadi, di bisnis ini dampak krisis juga cukup terasa.
Itu sebabnya, kata Mas Tommy, selama tahun lalu Humpuss terpaksa mengalami kerugian hingga miliaran rupiah?
Benar begitu. Namun, angka pastinya belum dapat kami sampaikan. Salah satu sumber kerugian itu adalah karena rugi kurs, sebab secara operasional kami masih relatif lebih baik. Terutama sektor transportasi dan chemical yang banyak menggunakan dolar. Sebelumnya, kurs yang digunakan antara Rp 9.000 hingga Rp 10 ribu, kini sudah di atas Rp 11 ribu.
Melihat kondisi seperti ini, apa yang akan dilakukan manajemen?
Ya itu tadi, kami akan melakukan efisiensi, dan di sisi lain juga berusaha keras meningkatkan penjualan. Kami menyadari bahwa saat ini memang susah. Meski demikian, kami masih tetap optimistis bahwa potensi yang kami miliki masih cukup besar. Manajemen pun memandang bahwa keniscayaan itu masih ada. Kami juga yakin akan dapat mengatasi masalah ini.
Lagi pula, masalah yang dihadapi Humpuss, toh lebih karena efek domino krisis...
Betul begitu. Untungnya kami tidak pegang balak enam, ha.. ha.. ha..
Bila melihat potensinya, ke depan Humpuss akan diarahkan ke mana?
Kami akan lebih fokus dengan sekuat tenaga mempertahankan apa yang telah dicapai hingga saat ini. Meski begitu, kami tidak menutup mata terhadap peluang bisnis baru. Untuk itu, kemungkinannya antara lain mulai memproduksi etanol dan menjajaki bisnis power plant (pembangkit listrik). Bisnis ini kan sejalan dengan program pembangunan pemerintah yang akan membuat pembangkit listrik 10 ribu megawatt. Peluangnya bagi kami, antara lain untuk memenuhi pasokan listrik di Pulau Sumatra dan Kalimantan.
|