Home | Contact UsLogin | Site Map

ganti ke bahasa indonesia
Sunday, 05 September 2010

humpuss ramadan.jpg

Category
Post in This Category:
“Untung, Kami Tidak Pegang Balak Enam”
Pada 15 April 2009 lalu, Eko Edhi Caroko dari Majalah Trust  berkesempatan melakukan wawancara dengan Direktur Utama Humpuss Tito Soetalaksana di kantornya, Gedung Granadi lantai 9, Jakarta....
 More
Bisnis, Penjara & Wanita
Nonita Respati dan Adi Nugroho dari majalah ESQUIRE mewawancarai Hutomo Mandala Putra, Komisaris Utama Humpuss, pada bulan Maret lalu dan dimuat dalam edisi April 2009....
 More
”Saya Akan Menuntut Pidana Menteri Keuangan”
Majalah Trust memperoleh kesempatan wawancara ekslusif dengan Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) pada tanggal 26 Februari 2009 lalu. Kepada Bambang Aji Setiady, Budi Kusumah dan Arief Nazarudin, di Klapa Club, kawasan Pecatu Indah Resort, Bali,......
 More
Wawasan Politik Pak Harto
Untuk mengenang satu tahun wafatnya mantan Presiden RI, H.M. Soeharto, redaksi menurunkan tulisan Sarwono Kusumaatmadja yang pernah menjabat sebagai menteri dalam dua periode kabinet berturut-turut, yaitu Kabinet Pembangunan V (1988-1993) dan VI......
 More
2025 Report: A World of Resource Strife
A new report by the National Intelligence Council (NIC) on the emerging strategic landscape, "Global Trends 2025," has attracted worldwide attention because it forecasts a future environment in which the United States wields less power......
 More
Kurangi Beban Ekonomi Pulau Jawa
Perdebatan naik turunnya produksi energi dan pangan umumnya terfokus pada kebijakan sektoral, harga komoditas dan teknologi produksi. Yang belum banyak dibahas adalah kesalahan strategi pengembangan wilayah dalam menjamin ketahanan pangan dan......
 More
The Age of Bloomberg
The real fallout of the financial crisis will be the delegitimization of American power. For decades, the United States has attracted massive amounts of capital— 80 percent of the surplus savings of the world— which......
 More
Hutomo Mandala Putra: “Uang itu bukan untuk beli Timor”
Bambang Aji Setiady, Budi Kusumah, Moebanu Moera dan Arief Nazarudin dari majalah Trust melakukan wawancara khusus dengan Hutomo Mandala Putra pada minggu pertama Juni lalu dan dimuat pada edisi 9-15 Juni 2008....
 More
Eko Putro Sandjojo: Si bandel yang jadi presdir
Majalah Warta Ekonomi edisi 07, tanggal 31 Maret 2008, menurunkan feature tentang Presiden Direktur PT. Humpuss. Profil ini ditulis berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh Fadjar Adrianto dan Utami Wardhani....
 More
Dari ideologi sampai praksis kebijakan
Namun, tantangan yang dihadapi Indonesia dalam penyediaan atau pengembangan energi alternatif ini tidaklah mudah sebagaimana diuraikan dalam artikel ini....
 More
Global energy markets: Worse than you may think
Many have suggested that sharply increasing demand for energy is fueling a race for resources between China and the United States that will define the future of the energy market, West observed. But in his......
 More
 
In Focus

Thursday, 22 January 2009


Nasionalisme Pangan Pak Harto

Sepanjang 1970-an hingga 1980-an dilakukan investasi besar-besaran untuk infrastruktur pertanian. Sejumlah waduk, bendungan dan irigasi dibangun, jalan-jalan pedesaan diperbaiki, juga program listrik masuk desa. Selain itu, diperkenalkan manajemen usaha tani seperti Panca Usah Tani, Bimas, Operasi Khusus dan Intensifikasi Khusus. Pabrik pupuk Petro Kimia, Pupuk Sriwijaya dan Asean Aceh Fertilizer dibangun.

By: Fadel Muhammad

 

Kenangan yang paling membekas pada saya tentang Pak Harto adalah penghargaan Upakarti yang diberikan pada 1989 atas prestasi kami di Bukaka dalam membuat barang-barang yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran pembangunan seperti pompa angguk, mesin pembuat jalan raya, dan gangway untuk pesawat terbang.

 

Beliau sendiri yang memberikan nama Indonesia yang sangat bagus, yaitu “Garbarata. Penghargaan ini merupakan bentuk kepercayaan beliau terhadap orang muda. Jika diberi kesempatan, orang muda mampu berprestasi dan menghasilkan produk yang tidak kalah dengan buatan luar negeri.

 

Rasa bangga terhadap prestasi anak muda Indonesia tidak sebatas pada pemberian penghargaan, tetapi diikuti dengan kebijakan yang memberikan ruang yang leluasa untuk berprestasi melalui kompetensi. Untuk meningkatkan penggunaan produk yang sudah dapat dibuat di dalam negeri oleh putra-putra terbaik Indonesia, beliau mengangkat Ginanjar Kartasasmita sebagai Menteri Muda UPDN.

 

Kebijakan inilah yang kemudian melahirkan pengusaha-pengusaha tangguh tamatan perguruan tinggi yang mampu bersaing di kancah internasional seperti Arifin Panigoro melalui Medco, Aburizal Bakrie melalui Bakrie Brothers, Iman Taufik melalui Tri Patra, dan masih banyak lagi. Prestasi aksi dan prestasi hasil yang ditunjukkan oleh anak-anak muda menjadikan kami kerap diajak ngobrol santai untuk masalah yang serius. Beliau menekankan pentingnya visi pembangunan yang jelas dan operational.Topik kesukaan beliau adalah pertanian.

Beliau tahu dengan detil masalah pertanian dan merupakan obsesinya untuk menjadikan petani Indonesia makmur dan mampu menikmati hasil pembangunan.
Mayoritas masyarakat Indonesia adalah petani yang berkategori peasant, yaitu yang hanya berorientasi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sendiri (petani subsisten) bukan farmer, petani yang berorientasi komersial. Meski demikian, petani Indonesia merupakan soko guru sejati pembangunan.

Mereka memiliki tugas mulia menyediakan produk pangan dengan harga terjangkau agar semua lapisan masyarakat dapat mudah mengakses sumber pangan. Nasihat Pak Harto yang terus kami ingat adalah jangan lupakan petani karena jasa merekalah maka kita yang hidup di kota menjadi lebih nyaman.

Untuk membangkitkan kepercayaan masyarakat pada awal pemerintahannya, langkah darurat yang diambil adalah membuka keran impor beras dan mencari bantuan luar negeri untuk impor beras. Setelah kepercayaan diraih, stabilitas teraih.
Pak Harto mulai melakukan revitalisasi sektor pertanian dan mendirikan Bulog sebagai penyangga harga beras agar terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Pada awal 1970-an, ketika minyak dijadikan senjata diplomasi oleh negara-negara Timur Tengah dalam menekan Amerika dan Eropa agar lebih fair dalam menjalankan kebijakan politik luar negerinya di Timur Tengah, Indonesia kebagian rezeki minyak akibat kenaikan harga yang cukup signifikan. Rezeki minyak ini dimanfaatkan dengan saksama oleh Pak Harto untuk membangun sektor pertanian.

 

Sepanjang 1970-an hingga 1980-an dilakukan investasi besar-besaran untuk infrastruktur pertanian. Sejumlah waduk, bendungan, dan irigasi dibangun. Bendungan Karang Kates di Jawa Timur, Waduk Mrica, Gajah Mungkur dan Kedung Ombo di Jawa Tengah, Bendungan Riam Kanan dan Riam Kiwo di Kalimantan, Bendungan Asahan di Sumatra, jalan-jalan pedesaan diperbaiki, juga program listrik masuk desa.

 

Selain itu, diperkenalkan manajemen usaha tani, dimulai dari Panca Usaha Tani, Bimas, Operasi Khusus, dan Intensifikasi Khusus yang terbukti mampu meningkatkan produksi pangan, terutama beras. Budi daya padi di Indonesia adalah yang terbaik di Asia. Pemerintah memfasilitasi ketersediaan benih unggul, pupuk, pestisida melalui subsidi yang terkontrol dengan baik. Pabrik pupuk dibangun. Petro Kimia Gresik di Gresik, Pupuk Sriwijaya di Palembang, dan Asean Aceh Fertilizer di Aceh.

 

Langkah pembangunan pertanian yang dilakukan Pak Harto dikenal dengan nama "revolusi hijau". Dari revolusi hijau ini dihasilkan peningkatan produksi beras secara besar-besaran. Produksi beras nasional praktis dapat memenuhi permintaan dalam negeri.

 

Pada puncaknya, pada 1984 Indonesia berhasil meraih surplus produksi beras. Bahkan, dapat membantu Afrika yang kala itu sedang dilanda kelaparan. Di saat yang sama, pemerintah berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat di pedesaan dan memperkecil tingkat ketimpangan antarmasyarakat desa dan kota di Indonesia walau pada saat yang sama ada penurunan tingkat harga produk pertanian.

 

Prestasi aksi dan prestasi hasil di bidang pembangunan pertanian telah mengantarkan Pak Harto mendapatkan penghargaan dari FAO pada 21 Juli 1986 di Roma. Ini adalah magnum opus Pak Harto yang sulit ditandingi. Setelah Pak Harto menarik diri dari pemerintahan, terjadi titik balik dalam prestasi pengelolaan pangan. Sejak akhir 2006, harga beras mulai merangkak naik.

Belakangan minyak goreng dan kacang kedelai sebagai bahan baku tempe naik lebih dari dua kali lipat. Ketahanan pangan kita demikian rapuh karena petani tidak diberi insentif yang menjamin
keberlangsungan usahanya. Lebih ironis lagi karena euforia reformasi, jabatan penyuluh pertanian oleh beberapa pemerintah daerah dihapuskan. Kalau begitu jangan heran bila kita sekarang sulit menaikkan produktivitas pertanian.

 

Kita masih belum terlambat merevitalisasi sektor pertanian. Pemberdayaan petani melalui pendekatan budaya wirausaha adalah sebuah keharusan. Ini dilakukan dengan penguatan SDM petani melalui pelatihan dan bimbingan yang berkesinambungan. Selain itu, perlu sertifikasi aset petani agar bankable. Ini akan membantu penguatan modal petani.

 

Semangat swadaya petani perlu dibangkitkan. Titik masuknya adalah melalui dana bergulir yang dipertanggungjawabkan secara tanggung renteng. Jika ini dilakukan, impian Pak Harto menjadikan petani makmur dan bermartabat adalah suatu keniscayaan. Selamat jalan, Pak Harto. Semoga mendapat kemuliaan di sisi Allah.

 

Fadel Muhammad, Gubernur Gorontalo



Sumber: www.okezone.com/2008/01/30