|
Jenderal Besar dari Kemusuk
Buku setebal 176 halaman yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat itu diluncurkan di Monumen Jogja Kembali (Monjali), pada Senin 1 Maret 2010 lalu, terbingkai dalam seminar sejarah memperingati Serangan Umum 1 Maret 1949.
Selasa, 2 Maret 2010 | 13:11 WIB
Sosok Soeharto dan kiprahnya selalu menarik ditulis. Setidaknya 33 buku biografi tentang Soeharto sudah beredar di pasaran. Lantas apa yang ditawarkan "Soeharto Jenderal Besar dari Kemusuk", buku yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat?
Senin (1/3), buku setebal 176 halaman itu diluncurkan di Monumen Jogja Kembali (Monjali), terbingkai pada seminar sejarah memperingati Serangan Umum 1 Maret 1949. Putra almarhum Soeharto, yakni Tommy Soeharto, mewakili pihak keluarga menerima buku itu.
Buku berlatar warna hijau itu bergambar Soeharto tua dengan pakaian militer. Ada enam bab tersaji. Bab pertama berisi garis besar riwayat hidup Soeharto. Bab kedua dan ketiga berkisah masa kecil hingga remaja, dan awal karier Soeharto. Tiga bab selanjutnya bercerita mengenai kariernya di jajaran TNI, mengemban amanah Orde Baru, dan kehidupan pribadinya.
Walaupun peluncuran buku dilakukan tepat saat peringatan Serangan Umum, buku hanya mengupas sedikit peran Soeharto. Juga kaitannya dengan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang misterius itu. Mengenai Serangan Umum, dipaparkan secara garis besar bahwa Soeharto-- yang saat itu berpangkat letkol dan menjabat Komandan Wehrkreise-- bermusyawarah dengan Sultan Hamengku Buwono IX di Keraton.
Lalu diputuskan menggelar serangan umum pada 1 Maret. Serangan berdurasi enam jam itu sukses menguasai hampir seluruh kota dan obyek penting di sekitar Yogyakarta. Keberhasilan itu menumbuhkan keyakinan, bangsa Indonesia mampu berjuang melawan penjajah.
Di forum internasional, Indonesia bisa mendesak Belanda kembali ke meja perundingan. Perundingan Roem-Royen pada 14 April-7 Mei 1949 menghasilkan keputusan Yogyakarta kembali ke pangkuan republik.
Kepala Dinas Sejarah AD Brigjen TNI Marsono mengatakan terbitnya buku itu untuk mengambil hikmah nilai filosofi Soeharto. Penulisan buku lebih pada penyajian kronik peristiwa sehingga tersirat pesan moral. Di sana ditulis, Soeharto harus meninggalkan istrinya yang baru dinikahi dua minggu untuk berperang di front Ambarawa.
Soeharto tak melihat anak pertamanya selama tiga bulan. "Ia (Soeharto) mempertaruhkan nyawa memimpin gerilya, berperang saat Ibu Tien hamil," ujar Probosutedjo, adik Soeharto, yang datang dan ikut berbicara di acara itu.
Seperti disampaikan Letkol Infanteri Eko Ismadi, Kepala Pembina Dokumen Sejarah Dinas Sejarah AD, buku itu mengupas sisi yang jarang disentuh buku-buku biografi Soeharto.
"Biografi sebelumnya hanya mengulas Soeharto dari sisi pandangan politik, kehidupan, perilaku, cara meraih sukses dalam membina kehidupan dan bernegara. Tak pernah menyebut bahwa Soeharto juga pejuang, seperti yang ingin disuarakan buku ini. Tapi, perlu diingat, buku ini bukan untuk mengultuskan Soeharto," kata Eko.
Sejumlah akademisi dan pelaku sejarah bersuara tentang Soeharto dan keterkaitannya dengan Serangan Umum pada seminar kemarin. Isu utama pada perdebatan siapa pemrakarsa serangan. Tak bisa dimungkiri, nama Soeharto meroket pascaperistiwa itu, hingga akhirnya duduk sebagai presiden kedua RI.
Selama ini, ada tiga nama disebut-sebut pemrakarasa Serangan Umum 1 Maret, yakni Menteri Koordinator Keamanan yang juga Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono IX, Komandan Wehrkreise III Letkol Soeharto, dan Komandan Divisi III Kolonel Bambang Sugeng. Semua mengamini bahwa mereka bertiga punya peran penting.
Namun, menurut guru besar Fakultas Ilmu Budaya UGM, Suhartono W Pranoto, yang menjadi pembicara itu, tetap sukar jika hendak dikerucutkan pada satu nama.
Sejarah memang mencakup banyak aspek. Sosok Soeharto bisa dipotret dari sisi lain. Pak Harto, misalnya, di buku itu digambarkan sebagai sosok bapak yang terpukul dan kehilangan energi saat Ibu Tien meninggal. Satu pesan moral, Soeharto setia dan sayang kepada istrinya.
Pada akhirnya, buku itu memang tak selesai mengupas Soeharto. Ada sepotong kalimat Soeharto di tahun 1976. "Sekiranya ada hal-hal yang dinilai baik selama saya mengabdi pada ABRI, ya, tirulah. Tetapi, kalau ada yang tidak baik, tidak perlu ditiru." (Lukas Adi Prasetya)
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/02/1311205/jenderal.besar.dari.kemusuk

|